Sajak Per-Muda-an
Masih ingatkah dengan hujan bertalu-pilu
Kian menciut dalam cermin semu
Terlonta oleh malam, tetap saja bersembunyi di
balik mendung abu
Itulah
aku seperti itu
Masih
ingatkah dengan padang kepada ilalang
Acap kali bersapa-sayang
Takkadang pula bersalam bimbang
Dalam tawa terluput hening
Jangan
lupakan kepastian api
Bersayap hangat-panas dalam serpihan diri
Kian mampu membakar seonggok nurani
Jangan
lupakan keberadaan laut
Mengombak nan sempoyongan dalampergulatan
Lalu, ...:
Tekad sudah menjadi darah.
Sadar pun menulang-penguat
Kini, hanya tinggal aku dan Pertiwi
Tak lupuk ku bertaslim padanya:
Walau
ajal kan menjemput
Walau
diri tiba tuk sekarat
Namun
jiwa ini takkan pernah berkhianat
Kau pertiwi,
Bukan…
Namun kita Pertiwi,
Bebas
bertindak tanpa ada yang tertindas
Karena
kita adalah harapan juga masa depan
Dalam panji peradaban
Kian
berguna! bukan tersia-sia...
Yogyakarta, 2016

0 komentar:
Posting Komentar